Silent Is SWEET!

0

Ini khusus buat kalian yang memang niat baca posting aku,  karena kalo nggak ada niat, kalian pasti nyesel. (Maksa dikit nggak papa kan?). Aku Cuma mau kalian tau kalo ini duniaku dan cerita ini milikku, jadi semua harus sesuai dengan kemauanku. So, kalian nggak usah ngatur-ngatur aku peke aturan yang banyak macemnya dan aku nggak perlu nulis pake bahasa baku di sini. Got it?  (Aku nggak mau susah susah ngecek dan ricek EYD aku. Hahahahhaaha :D…)

silent

Kali ini aku akan bahas satu kata. Kata ini udah sering banget dipake dan didenger sama semua orang di Indonesia. Jadi, barangsiapa yang nggak tau kata ini, jangan pernah ngucap Sumpah Pemuda. Apalagi Sumpah Pemuda yang nyatain kalo kita ini berbahasa satu, bahasa Indonesia. Cozzy ni ya, dia pasti nggak bisa bahasa Indonesia dan nggak pernah belajar di sekolah. Contohnya gini, kata ini bisa buat adek kita yang kucel dan nyebelin berhenti nangis-nangis minta remote control. Kata ini juga ampuh banget dipake polisi buat nyetop maling yang lagi ngoceh bikin alibi palsu. Kata ini juga biasa dipake guru buat bikin kelas yang semula rame kayak pasar Minggu jadi sepi kayak kuburan Jeruk Purut. Kebayang kan gimana hebatnya kata ini. So, pasti lebih hebat dari otot dan tulangnya Gatot Kaca (kayak nama bapak gua, hahahaha), lebih kuat dari batu kriptonnya Superman, lebih gagah daripada si Hulk yang gede-nya nandingin tank-nya U.S Army. Cool banget, kan?

Jadi, kata yang mau aku bahas adalah “DIAM”. Jangan sampe ni ya,  pas aku nulis ni kata, terus ada sound effect jangkrik, kayak di film-film  waktu ada pelawak lagi ngomong, terus lawakannya nggak buat penonton ketawa. Mati gaya kan aku?  Well, kita balik lagi ke topik utama kita. Kalo  orang inggris, ngomongnya silent. Kalo orang Spanyol, ngomongnya silencio. Nah, ternyata bukan Cuma orang Indonesia aja yang tau kata ini, orang luar negeri juga tau. Wah, kelihatan banget kalo aku orangnya gobis, alias bego abis. Tapi kali ini aku nggak bakal bahas soal ke-gobis-anku, terserah kamu mau ngomong apa soal itu yang pasti kalo kamu baca tulisan orang gobis, berarti kamu lebih gobis daripada penulisnya, kan? Hehehehe 😀 just kidding, bro. Kebetulan banget aku nulis ini di hari lebaran jadi kita harus saling memaafkan. Wkwkwkwkwk

Nah dari kata ini cerita romantis aku dimulai. Kayak judul posting aku, “Silent is Sweet”. Jadi bagi aku , diam itu manis. Hahahahaha … Ini bukan sekedar cerita roman picisan, tapi ini cerita roman asli. Jangan dikira ni ya orang super kucel, alay, gokil, slengengan, keren, imajainatif, up to date, dan masih banyak lagi contoh karakter yang deskripsi-in diri aku yang nggak aku sebutin disini karena cuma akan ngabis-ngabisin halaman blog seperti aku ini, nggak pernah ngerasain yang namanya jatuh cinta. Bahkan mungkin ni ya, cerita cinta aku lebih keren dan lebih romantis dari kalian.

Man, seperti kataku, aku juga pernah jatuh cinta. Meskipun aku orangnya rada aneh, tapi aku juga pernah ngerasain perasaan yang kaya begitu. Cerita ini dimulai ketika aku SD. Aku tu dulu murid yang rajin, Sob. Bimbel aja tiap hari… belajar malem sama subuh. Gilaaa,, itu masa-masa aku jadi murid teladan. Nggak heran dong aku jadi juara terus… wkwkwkwk (horeeee… 😀 kalo nggak kita yang muji diri sendiri, siapa lagi? :D) Nah, di bimbel itu aku jatuh cinta sama kakak tingkat aku. hehehheehehhehe XD  Orangnya tu pendieeeeeeeeeeeeeemmmmmmmmmmm banget. Seumur hidup, suer! Aku nggak pernah ketemu orang super, duper, pendiem kaya dia. Tapi auranya itu…. wessssssss… bikin hati ini deg deg deg, gitu. Wkwkwkwkwk XD

Maybe, sekian aja dulu ya, Sob… namanya juga ABSURDLICIOUS, nggak enak dong kalo ceritanya langsung TAMAT! Hehehehe dan satu lagi… semoga kalian menikmati situs-ku dan kasi aku kritik kalau memang ada yang kurang berkenan di hati kalian semua. Karena aku juga manusia biasa. Well, selamat menikmati posting-postingku yang berikutnya, ya… semoga tetap absurd dan penuh khayalan. Hehehehe 😀 (aku kemalicious sejati)

😀 😀 😀 😀 TO BE CONTINUED 😀 😀 😀 😀

ANEMONIA: My feeling

0

lostchild[1]

Rasa ini semakin hari, semakin membuatku gila. Apa yang salah? Aku sendiri tidak dapat menebaknya. Sesak. Bingung. Senang. Semuanya melebur menjadi satu kesatuan. Aku heran, tubuh dan pikiranku tidak mau bekerjasama lagi. Sarafku seakan-akan tidak mengikuti impuls yang diberikan otakku kepadanya. Intuisiku, kepekaanku, kemana mereka? Aku bingung. Aku sulit untuk memasukkannya ke dalam logikaku sendiri. Apa nama perasaan ini? Satu, dua, tiga… aku terus menghitungnya. Setiap detik, menit, hari, bulan, bahkan saat ini genap delapan tahun, aku tidak juga tahu apa yang aku rasakan. Aku bertanya pada diriku sendiri, dapatkah perasaan ini membuatku mati? Tidak mungkin! Lalu kenapa semua ini begitu menyiksa? Aku tidak mampu bertahan lagi. Cukup sudah! Aku ingin menghentikan perasaan ini. Biar saja aku terkapar, asalkan aku tidak tersiksa. Aku tak dapat mengenal hatiku lagi. Bagaimana mungkin aku bisa bertahan?

           

Me and Imagination

0

imagination

Aku adalah seorang anak absurd. Sebenarnya, bukan absurd dalam hal fisik, bukan dalam hal karakter, juga bukan dalam hal kepribadian, tapi lebih menjurus kepada kebiasaan.  Berkhayal.  Sebenarnya  itu kebiasaan yang wajar-wajar saja, kan?  Nggak ada oknum yang melarang orang berkhayal, hukum juga tidak. Tapi, dalam kasusku, kapasitasnya yang kurang wajar. (Hehehehe :D)

Dari kecil, aku sudah menjalani kebiasaanku ini. Entah ini memang bawaan orok  atau memang sudah suratan,  aku juga kurang paham. Tapi,  semenjak umur 5 tahun, aku sudah sering mengembangkan khayalanku.

Khayalan pertamaku, aku memposisikan diriku sebagai seorang Profesor. Jadi, aku mencari rekan yang sepadan denganku. Sepupuku, Bonar (nama disamarkan agar tidak merusak hubungan asmara sepupuku kalau-kalau pacarnya membaca cerita ini, karena akan menimbulkan reaksi ILFEELnisme).

Dulu, waktu usia kami 5 tahun, kami memiliki hayalan bahwa kami adalah seorang Profesor yang sedang bereksperimen dengan suatu senyawa yang akan menyembuhkan virus yang saat itu memporak-porandakan dunia kami. Dunia BoPa (Bongkar Pasang, sebuah permainan yang menggunakan orang-orangan dari kertas). Biasanya, BoPa diminati oleh anak perempuan, tapi waktu itu sepupuku mengalami masa pencarian jati dirinya sebagai seorang kesatria. Katanya, dia ingin menghibur Putri, saat ia sedih. Membantu  Putri, saat ia kesusahan. Merasakan apa yang dirasakan Putri. Intinya dia ingin menyelami kehidupan  Putri. Padahal, di era kita ini ya, Sob, nggak  ada yang namanya putri-putrian. Emangnya   ini abad pertengahan, apa?(Heloooo… (_ _”)) Tapi, setelah aku telusuri menggunakan teori Humantresno, yang dikemukakan oleh Dr. Phil Mak’kedombyangan, akhirnya aku menemukan suatu fakta lucu di balik ceritanya. Ternyata yang dia maksud “Putri” adalah Putri, kawan sepermainan kami, anak teman orangtua kami, Oom Gun. Padahal di kehidupan nyata mereka seperti Tom and Jerry Kids. Boleh dibilang, nggak  pernah akur. Memang benar kata pepatah, “benci jadi cinta”. Tapi aku sadar,  ada faktor kedua, dia terlalu banyak nonton Anime Saint Saiya. Kalau Saint Saiya menyelamatkan putri Athena, Bonar, ya..  menyelamatkan Putri, anak Oom Gun. So, aku memberi saran padanya supaya dia mau bermain BoPa  denganku. Pertama dia menolak, tapi dengan segenap aji-aji  pamungkas yang telah diberikan oleh mbah dukun-nya Bang Alam, akhirnya dia mau juga. (Horeeee :D)

Ya, kalau kalian adalah anak orang pas-pas’an, kalian pasti mengenal permainan ini. Biasanya BoPa diproduksi untuk anak yang tidak mampu membeli boneka terlaris, tercantik, terglamour, terseksi, terkaya dan seabrek ter-ter yang lain, sepanjang sejarah dunia. Barbie. BoPa dan Barbie ibarat bumi dan langit. Ibarat itik dan angsa. Ibarat singkong dan keju. Intinya mereka berdua berbeda jauh, jauh, jauh, jauh. Barbie yang paling murah, Rp. 50.000,00,- sedangkan BoPa yang paling murah, Rp. 500,00,-. Jauh, kan perbedaannya?

Ok, kita berhenti membahas BoPa dan Barbie. Waktu itu, kami memiliki laboratorium eksklusif. Gudang belakang rumah sepupuku. Kebetulah, gudang itu lumayan kosong untuk ukuran gudang, jadi kami masih bisa leluasa melakukan eksperimen. Disana ada meja kecil ukuran 1×3 meter untuk melakukan riset, dan sebuah kulkas bekas untuk menyimpan hasil riset kami. Alat-alat kami sederhana, piring bekas, gelas bekas, sedotan, spatula bekas, sendok bekas, kacamata bekas, talenan bekas, dan barang-barang bekas lain yang bisa digunakan. Diantara semua itu, hanya pisau, gunting dan plastik ukuran satu kilo yang merupakan barang baru, Tapi, gratis (Hahahaha :D). Karena ibu sepupuku membuka toko kelontong, jadi kami mengambil barang-barang itu di toko ibunya secara diam-diam. Waktu itu, kami juga memiliki khayalan bahwa kami adalah seorang spionase  muda, seperti Spy Kids. Kami berhasil masuk markas musuh (toko ibu sepupuku), mengambil barang bukti (pisau, gunting dan plastik ukuran satu kilo), kemudian kembali ke markas (gudang belakang) dengan rasa gembira :D.

Maybe, sekian aja dulu ya, Sob… semoga kalian menikmati situs-ku. Dan kasi aku kritik kalau memang ada yang kurang berkenan di hati kalian semua. Karena aku juga manusia biasa. Well, selamat menikmati posting-postingku ya… semoga tetap absurd dan penuh khayalan. Hehehehe 😀 (aku kemalicious sejati)

Daniel Boys: My favorite singer

0

index

Daniel Boys was born on 26th March 1979 in Yateley, Hampshire. One of four children, he has two older brothers and a younger sister. Daniel was spotted by the choirmaster at his school and became a chorister at St Michael’s Abbey, Farnborough at the age of eleven. Daniel sang with the choir every Sunday, also performing in concerts and singing on several albums. At school Daniel studied singing, drama, the piano and saxophone alongside regular subjects. Daniel left school at the age of eighteen with English and Music A-Levels.

Daniel won a Cameron Mackintosh scholarship to train at the Guilford School of Acting where he spent three years studying, and graduated in 2001 with a Bachelor of Arts Degree with Honours. Released from college six months early Daniel joined the musical Rent on it’s first UK national tour where he started off as the understudy to the characters Angel and Mark (played by Adam Rickett). This lead to Daniel taking over the lead role of Mark, performing alternative nights at the Prince Of Wales Theatre, in London’s West End.