ENID BLYTON: English Version

0

enidblyton

 

Enid Blyton was British writer for children’s books born on 11th August 1897. Enids love for writing had surfaced from the beginning of her childhood. Although her mother never approved of her writing and thought it was a mere waste of time her father encouraged his daughter to take part in all such activities. Enid gained confidence and started sending her work to different magazine. Finally her efforts paid off and her poem named ‘Have you?’ was published for the first time in Nash’s magazine.

Enid was a very bright child who excelled in studies, was a talented pianist and had remarkable writing skills. She attended St. Christopher’s School in Beckenham where she was the head girl. Later she became a trained teacher and taught at Bickly Subiton and Chessington. During this time she never gave up writing. She hoped to become a published author one day. Her dreamed was fulfilled when her first book ‘Child Whispers’ was published in 1922. It was a compilation of children’s poems. Two years later she got married to Hugh Alexander Pollock who was a book editor at the firm that had published two of her works.

In her mid thirties Enid went through some crisis in her life which included the death of her daughter. This troubled her emotionally and she began to show signs of instability. She started post marital affairs and in 1941 divorced her husband to marry Kenneth Fraser, a man she had met while she was still with her first husband. However she remained in her second marriage for the rest of her life.

Enid Blyton is most famous for her book ‘The Famous Five’ which is mystery series with 5 characters Julian, Dick, Anne, George, and a dog named Timmy. Her other well known novel from the ‘Mystery series’ was ‘The Adventurous Four’ where four children get wound up in different mystery expeditions. Another follow up is ‘The Secret Seven’ similar to the previous two novels; with a society of seven children who work on various mysteries. One of the most popular characters from her ‘Noddy books’ is sometimes criticized for being too soft and wrongly crying when situations were difficult.

Her stories were generally of 3 types. One was where children who are fairly independent from their parents or even authority figures move around solving mysteries and going on adventures. The second is the boarding house theme; where the story revolves around school life and its happenings like parties, practical jokes and relationships between the different characters. The third type is the world of fantasy where children are in a magical place with elves, goblins, fairies and other types of imaginative creatures.

A lot of Enid’s work faced criticism for presenting ‘a rosy view of the world’ and being racist or gender discriminate. However this never faltered her immense popularity among children. Her books which reach about 800 in number are still read with enthusiasm and have sold innumerable copies all over the world in over 90 translated languages.

Enid’s health started to deteriorate after the demise of her husband in 1967. She is reported to have Alzheimer’s disease and was moved to a nursing home where she died on 28th of November 1968 at the age of 70. She was a bestselling author with over 600 million copies of her books sold.

Advertisements

The Little Comedian: Will you Love me, If Im not Funny?? O.o

0

littlecomedian

Akhir-akhir ini, film dengan genre komedi romantis sedang ‘booming’ di Thailand. Pada tahun 2010 saja box office Thailand dikuasai oleh film-film jenis ini, sebut saja Hello Stranger atau A Little Thing Called Love, dimana kedua film itu juga cukup digemari di Indonesia. Sejak kemunculanBangkok Traffic Love Story, perfilman Thailand yang sebelumnya didominasi oleh genre horor dalam sekejap berubah,romance comedy menjadi salah satu genre yang favorit di Thailand. Sebenarnya genre seperti ini juga cukup banyak di Indonesia bahkan menurut saya pribadi kisah cinta dan komedi yang disajikan juga sudah cukup lazim digunakan dalam film-film genre komedi ataupun drama percintaan di Indonesia, bahkan dengan kedekatan culture ini film Thailand lebih mudah diterima di Indonesia. Mungkin yang membedakan mengapa film-film Thailand ini bisa cukup sukses adalah bagaimana para sutradara Thailand mereprentasikan cerita yang sederhana menjadi sebuah film yang bagus. Memang jika kita melihat bagaimana film-film Thailand ini bisa cukup sukses, bukan hanya di negeri asalnya saja tetapi juga di luar negeri dibandingkan dengan kondisi perfilman Indonesia yang masih cukup jauh tertinggal. Sepertinya para film maker kita harus berusaha lebih baik lagi, tak hanya sekedar membuat film asal jadi, tapi juga harus berkualitas.
littlecomedian_02
Mari kembali pada pembahasan film rom-com Thailand, selain Hello Stranger dan A Little Thing Called Love, satu lagi film dengan genre mirip yang masuk ke Indonesia adalah The Little Comedian. Bercerita tentang seorang anak bernama Tock (Chawin Likitjareonpong) yang hidup dalam sebuah keluarga komedian, dimana pekerjaan sebagai komedian sudah turun temurun di keluarga itu. Lahir dalam keluarga komedian belum menentukan Tock pandai sebagai komedian juga, penampilan pertamanya di panggung sebagai komedian bisa dibilang gagal total. Semenjak itu, ayahnya tak pernah memanggil Tock untuk naik ke panggung lagi. Tock kemudian bertemu dengan dr. Ice (Paula Taylor), seorang dokter kulit dimana Tock bertemu ketika temannya berkonsultasi tentang masalah jerawatnya. Pertemuan itu membuat Tock jatuh cinta pada dr. Ice, selain itu dr. Ice tidak hanya cantik tetapi bagi Tock, dr. Ice adalah orang pertama yang menganggap berbagai lawakan Tock lucu. Tock kemudian berusaha mati-matian demi mendapatkan cinta dr. Ice, tapi bukan hanya itu saja Tock juga berusaha menjadi seorang komedian demi mendapatkan cinta dari sang ayah.
littlecomedian_01
The Little Comedian sebenarnya bukan hanya sekedar rom-com biasa, selain mengangkat kisah cinta yang dibalut dengan komedi, film ini juga mengedepankan kehidupan dalam keluarga, kasih sayang orang tua dan juga perjuangan demi mencapai sebuah impian. Dari awal hingga pertengahan film sebenarnya bisa dibilang cukup membosankan, mungkin karena lawakan yang disajikan bisa dibilang sedikit ‘basi’ tapi menjelang akhir semakin baik. Berbeda dengan film percintaan lainnya dimana dua sejoli itu pasti tidak berbeda jauh umurnya. Dalam The Little Comedian yang terjadi adalah Tock yang baru masuk masa pubernya dengan dr. Ice yang belasan tahun di atasnya, bahkan di antara keduanya terjadi sebuah adegan yang *ugh* silahkan anda bayangkan sendiri, tapi semua itu seakan-akan ingin menggambarkan bagaimana sebuah proses seorang anak laki-laki menjadi dewasa. Dari segi akting sendiri sebenarnya tidak banyak yang bisa dibahas, mungkin hanya Tock saja yang cukup bersinar di film ini. Tapi bagi saya yang menarik justru akting pemeran adik dari Tock yang selalu hadir memberikan kelucuan-kelucuan yang tidak diduga, bahkan menurut saya adik Tock ini lebih lucu dibandingkan ayah ataupun kakaknya.

Lagi-lagi film maker Thailand berhasil menghasilkan karya yang cukup baik. The Little Comedian bukan hanya sebagai drama komedi biasa, tapi juga menghadirkan hubungan cinta dalam keluarga antara ayah dan anak dan juga menyajikan sebuah proses seorang anak menuju kedewasaan. Tak hanya menghibur dengan kelucuannya tapi The Little Comedian juga sarat akan pesan Moral. Will you love me, if I’m not funny?

Hmmmmm…. Will you love me, If I’m not Funny?? sebenarnya itu kata-kata yang simpe ya,,,, tapi langsung “nancep” gitu di hati. wkwkwkwk sama kaya kata adiknya Dika di film Cinta Brontosaurus, “Emang sayang butuh alasan, bang?” hehehheheheehe 😀
Intinya… mendingan kita nonton filem yang begini-begini aja, deh… daripada nonton horror-horror yang nggak jelas… *ups_Horror yang banyak adegan-adegan “tittttttttttttttttttt”-nya… yang sekarang lagi booming banget di Indonesia kita tercinta ini. hehehehhe
Peace, Love and Gaul deh! #emang planet remaja- (_ _”)

Komposer GEnius!: Ludwig van Bethoven! (indonesian Version)

1

3

Ludwig Van Beethoven ialah seorang komposer Jerman dan juga seorang tokoh unggul dalam sejarah musik klasikal. Beliau juga merupakan seorang ahli musik terpenting dalam tempo peralihan antara musik era klasikal dan musik era romantis di dalam musik barat. Musik dan reputasinya banyak memberi inspirasi untuk generasi-generasi berikutnya, begitu juga kepada ahli-ahli musik dan para pendengar.Walaupun beliau pada hari ini dikenali sebagai seorang penggubah, Beethoven adalah juga seorang pemain piano yang dikagumi.

Beethoven berpindah ke Vienna, Austria ketika berumur awal dua puluhan, dan menetap di situ. Beliau belajar musik di bawah bimbingan komposer ternama, Joseph Haydn dan dengan pantasnya, mencapai kemasyhuran sebagai seorang pemain piano yang amat cemerlang.

Walaupun pendengaran beliau mula beransur-ansur hilang pada akhir dua puluhan, Beethoven terus gigih menghasilkan karya-karya agung di sepanjang hidupnya. Karya beliau terus dibuat walaupun setelah pendengaran beliau telah hilang sama sekali dan menjadikan beliau tuli.
Beethoven juga seorang komposer bebas pertama dengan membuat aransemen musik untuk konsert-konsert, menjual aransemen musiknya untuk penerbit-penerbit dan mendapat bantuan kewangan daripada beberapa pelanggan-pelanggan kaya. Beliau memilih kerja bebas daripada mencari pekerjaan tetap di gereja atau tempat bangsawan seperti pemusik atau musisi lain.

1
Beethoven dilahirkan di Bonn, Jerman pada tahun 1770, dari Johann van Beethoven, (1740–1792), seorang pemain muzik berketurunan Flemish, dan Maria Magdalena Keverich (1744–1787), anak ketua dapur di kubu Festung Ehrenbreitstein.
Beethoven merupakan salah seorang dari tujuh adik bersaudara, tetapi hanya beliau dan dua adik-adiknya yang hidup. Beethoven dibaptiskan pada 17 disember 1770. Walaupun tarikh lahir beliau tidak diketahui secara pasti, namun keluarganya (dan kemudian, gurunya Johann Georg Albrechtsberger) menyambut hari lahir beliau pada 16 Disember.
Ibu Beethoven meninggal dunia pada 17 Julai 1787, ketika beliau berusia 16 tahun. Disebabkan ketagihan alkohol ayahnya menjadi teruk, Beethoven terpaksa memikul tanggung jawab menjaga ke-dua adik-adiknya. Beethoven berpindah ke Vienna pada tahun 1972, dimana beliau belajar musik kepada Joseph Haydn, walaupun sebenarnya beliau berminat untuk belajar muzik dengan Mozart yang meninggal dunia setahun sebelumnya,
Beethoven menerima latihan tambahan dalam bidang muzik daripada seorang kaunterpoin terkemuka Vienna, Johann Georg Albrechtsberger dan juga komposer dan konduktor musik terkenal Itali, Antonio Salieri. Pada tahun 1793, Beethoven mulai terkenal sebagai pemain piano cemerlang di Vienna.

Dia meninggal di Wina tahun 1827 pada usia lima puluh tujuh tahun. Karya Beethoven yang banyak itu termasuk 9 simfoni, 32 sonata piano, 5 piano concerto, 10 sonata untuk piano dan biola, serangkaian kuartet gesek yang menakjubkan, musik vokal, musik teater, dan banyak lagi. Tetapi, yang lebih penting dari jumlah ciptaannya adalah segi kualitasnya. Karyanya merupakan kombinasi luar biasa dari kedalaman perasaan dengan kesempurnaan tata rencana. Beethoven memperagakan bahwa musik instrumental tak bisa lagi dianggap cuma punya nilai seni nomor dua. Ini dibuktikan dari komposisi yang disusunnya yang telah mengangkat musik instrumental itu ke tingkat nilai seni yang amat tinggi.
Beethoven benar-benar seorang pencipta orisinal yang jempolan dan banyak perubahan-perubahan yang dilakukan dan diperkenalkannya mempunyai pengaruh yang abadi. Dia memperluas ukuran sebuah orkestra. Dia menambah panjangnya simfoni dan memperluas daya jangkaunya. Dengan mendemonstrasikan kemungkinan yang hampir tak terbatas yang bisa dihasilkan oleh piano, dia membantu menjadikan piano itu instrumen musik yang paling terkemuka. Beethoven membuka babak transisi dari musik klasik ke musik bergaya romantik dan karyanya merupakan sumber ilham untuk gaya romantik.

2

Dia menanamkan daya pengaruh yang menghunjam pada diri komponis-komponis yang muncul belakangan, termasuk tokoh-tokoh yang memiliki gaya berbeda seperti Brahms, Wagner, Schubert dan Tchaikovsky. Dia juga merintis jalan buat Berlioz, Gustav Mahler, Richard Strauss dan banyak lagi lainnya.

Nyata benar, Beethoven mesti ditempatkan di atas musikus mana pun dalam daftar urutan buku ini. Meski Johann Sebastian Bach nyaris punya keistimewaan setara, karya Beethoven lebih luas dan lebih sering didengar ketimbang ciptaan Bach. Lebih dari itu, sejumlah penyempurnaan yang dilakukan Beethoven lebih punya pengaruh mendalam terhadap perkembangan musik selanjutnya ketimbang hasil karya Bach.

Secara umum, ide etik dan politik lebih gampang dijabarkan dengan kata-kata daripada musik dan kesusasteraan. Punya ruang lingkup pengaruh yang lebih luas dari pada musik. Atas dasar pertimbangan inilah Beethoven –meski tokoh jempolan dalam sejarah musik– ditempatkan dalam urutan lebih rendah ketimbang Shakespeare. Dalam hal membandingkan antara Beethoven dan Michelangelo, saya amat terpengaruh dengan kenyataan bahwa umumnya orang lebih banyak gunakan waktu mendengarkan musik daripada memandang lukisan atau patung pahatan, dan atas dasar alasan ini pula saya pikir komponis-komponis musik umumnya lebih berpengaruh dibanding pelukis atau pemahat yang kemasyhurannya dalam lapangan masing-masing setara. Walhasil, tampaknya cukup layak menempatkan Beethoven pada urutan antara Shakespeare dan Michelangelo.

Ref :
http://ms.wikipedia.org/wiki/Ludwig_van_Beethovenhttp://kolom-biografi.blogspot.com/2009/01/biografi-ludwig-van-beethoven.html

Read more at http://info-biografi.blogspot.com/2010/03/biografi-beethoven.html#ge4HJRCVFAgYvJdq.99