The Little Comedian: Will you Love me, If Im not Funny?? O.o

0

littlecomedian

Akhir-akhir ini, film dengan genre komedi romantis sedang ‘booming’ di Thailand. Pada tahun 2010 saja box office Thailand dikuasai oleh film-film jenis ini, sebut saja Hello Stranger atau A Little Thing Called Love, dimana kedua film itu juga cukup digemari di Indonesia. Sejak kemunculanBangkok Traffic Love Story, perfilman Thailand yang sebelumnya didominasi oleh genre horor dalam sekejap berubah,romance comedy menjadi salah satu genre yang favorit di Thailand. Sebenarnya genre seperti ini juga cukup banyak di Indonesia bahkan menurut saya pribadi kisah cinta dan komedi yang disajikan juga sudah cukup lazim digunakan dalam film-film genre komedi ataupun drama percintaan di Indonesia, bahkan dengan kedekatan culture ini film Thailand lebih mudah diterima di Indonesia. Mungkin yang membedakan mengapa film-film Thailand ini bisa cukup sukses adalah bagaimana para sutradara Thailand mereprentasikan cerita yang sederhana menjadi sebuah film yang bagus. Memang jika kita melihat bagaimana film-film Thailand ini bisa cukup sukses, bukan hanya di negeri asalnya saja tetapi juga di luar negeri dibandingkan dengan kondisi perfilman Indonesia yang masih cukup jauh tertinggal. Sepertinya para film maker kita harus berusaha lebih baik lagi, tak hanya sekedar membuat film asal jadi, tapi juga harus berkualitas.
littlecomedian_02
Mari kembali pada pembahasan film rom-com Thailand, selain Hello Stranger dan A Little Thing Called Love, satu lagi film dengan genre mirip yang masuk ke Indonesia adalah The Little Comedian. Bercerita tentang seorang anak bernama Tock (Chawin Likitjareonpong) yang hidup dalam sebuah keluarga komedian, dimana pekerjaan sebagai komedian sudah turun temurun di keluarga itu. Lahir dalam keluarga komedian belum menentukan Tock pandai sebagai komedian juga, penampilan pertamanya di panggung sebagai komedian bisa dibilang gagal total. Semenjak itu, ayahnya tak pernah memanggil Tock untuk naik ke panggung lagi. Tock kemudian bertemu dengan dr. Ice (Paula Taylor), seorang dokter kulit dimana Tock bertemu ketika temannya berkonsultasi tentang masalah jerawatnya. Pertemuan itu membuat Tock jatuh cinta pada dr. Ice, selain itu dr. Ice tidak hanya cantik tetapi bagi Tock, dr. Ice adalah orang pertama yang menganggap berbagai lawakan Tock lucu. Tock kemudian berusaha mati-matian demi mendapatkan cinta dr. Ice, tapi bukan hanya itu saja Tock juga berusaha menjadi seorang komedian demi mendapatkan cinta dari sang ayah.
littlecomedian_01
The Little Comedian sebenarnya bukan hanya sekedar rom-com biasa, selain mengangkat kisah cinta yang dibalut dengan komedi, film ini juga mengedepankan kehidupan dalam keluarga, kasih sayang orang tua dan juga perjuangan demi mencapai sebuah impian. Dari awal hingga pertengahan film sebenarnya bisa dibilang cukup membosankan, mungkin karena lawakan yang disajikan bisa dibilang sedikit ‘basi’ tapi menjelang akhir semakin baik. Berbeda dengan film percintaan lainnya dimana dua sejoli itu pasti tidak berbeda jauh umurnya. Dalam The Little Comedian yang terjadi adalah Tock yang baru masuk masa pubernya dengan dr. Ice yang belasan tahun di atasnya, bahkan di antara keduanya terjadi sebuah adegan yang *ugh* silahkan anda bayangkan sendiri, tapi semua itu seakan-akan ingin menggambarkan bagaimana sebuah proses seorang anak laki-laki menjadi dewasa. Dari segi akting sendiri sebenarnya tidak banyak yang bisa dibahas, mungkin hanya Tock saja yang cukup bersinar di film ini. Tapi bagi saya yang menarik justru akting pemeran adik dari Tock yang selalu hadir memberikan kelucuan-kelucuan yang tidak diduga, bahkan menurut saya adik Tock ini lebih lucu dibandingkan ayah ataupun kakaknya.

Lagi-lagi film maker Thailand berhasil menghasilkan karya yang cukup baik. The Little Comedian bukan hanya sebagai drama komedi biasa, tapi juga menghadirkan hubungan cinta dalam keluarga antara ayah dan anak dan juga menyajikan sebuah proses seorang anak menuju kedewasaan. Tak hanya menghibur dengan kelucuannya tapi The Little Comedian juga sarat akan pesan Moral. Will you love me, if I’m not funny?

Hmmmmm…. Will you love me, If I’m not Funny?? sebenarnya itu kata-kata yang simpe ya,,,, tapi langsung “nancep” gitu di hati. wkwkwkwk sama kaya kata adiknya Dika di film Cinta Brontosaurus, “Emang sayang butuh alasan, bang?” hehehheheheehe 😀
Intinya… mendingan kita nonton filem yang begini-begini aja, deh… daripada nonton horror-horror yang nggak jelas… *ups_Horror yang banyak adegan-adegan “tittttttttttttttttttt”-nya… yang sekarang lagi booming banget di Indonesia kita tercinta ini. hehehehhe
Peace, Love and Gaul deh! #emang planet remaja- (_ _”)

ANEMONIA: MY FEELING

0

Aku bingung harus memulainya darimana. Aku ragu bisa menuliskannya dalam bentuk kata-kata indah di atas kertas. Setiap kali aku memikirkannya, segala inspirasi yang ada dalam otakku seakan-akan hilang, lenyap tanpa jejak. Aku heran, seharusnya setiap orang yang merasakan perasaan ini dapat menuliskan begitu banyak kata yang akan menggugah jiwa, tapi tidak demikian denganku. Aku juga punya hati, aku juga dapat mencintai, tapi, mengapa aku berbeda?
Setiap hari aku berusaha menulis cerita tentang dirinya, namun semua ceritaku selalu berakhir dengan kebuntuan. Aku ingin membuat suatu karya yang menceritakan kisahku. Kisah yang selalu aku rajut setiap hari, yang aku hangatkan agar tidak menjadi dingin. Kisah yang mulai aku pahat delapan tahun lalu, membentuk patung yang berwujud kesetiaan.
Hingga kini, aku tak berhenti memikirkannya. Aku menunggu. Menunggu ia mengatakan kepadaku bahwa cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Hingga saat itu tiba, aku tak ingin melabuhkan hatiku pada orang lain. Aku pernah mencobanya, tapi aku gagal. Hatiku sudah terpaut padanya begitu erat. Hingga tak ada lagi celah bagi hati yang lain untuk dapat memisahkannya. Aku ingin jari-jariku menari diatas kertas, menuliskan kata demi kata yang melukiskan perasaanku padanya. Perasaanku yang tak pernah termakan waktu. Hanya untuk dirinya seorang.

JUST FOR Mr. B…
I LOVE U…
DO YOU LOVE ME TOO???